"Bagaimana, aman?" tanya seorang prajurit yang baru datang. Ia menatap rekannya yang tengah berjaga dengan nada rendah namun waspada.

"Aman. Siapa juga orang bodoh yang mau nekat datang ke area terlarang begini? Mereka pasti tahu itu sama saja cari mati," jawab prajurit yang berjaga sambil menyandarkan tubuhnya di dinding pos, nada suaranya terdengar santai namun penuh keyakinan.

"Psst, jangan terlalu keras. Kau bisa kena masalah kalau ketahuan ngomong seenaknya. Jangan pernah meremehkan penjagaan, apalagi saat ini banyak berita mengenai banyak kultivator mengincar tempat ini," tegur rekannya dengan serius, matanya menyapu sekitar seakan memastikan tak ada yang mendengar.

"Hah, semua ini gara-gara kesombongan kerajaan Qingyuan. Seharusnya kerajaan Jinghai kita yang pegang kunci dimensi itu. Sekarang mereka malah enak-enakan bawa kunci dimensi, sementara kita yang dibikin repot jagain tempat ini. Mereka bisa seenaknya datang buka portal kapan saja," gerutu prajurit satunya dengan nada kesal, rahangnya mengeras menahan amarah.

"Jadi maksudmu lebih baik mereka yang bawa fragmen senjata iblis itu daripada kita?" sahut rekannya tajam. Kata-kata rekannya tersebut sudah terlalu sering di dengarnya belakangan hari ini. Sejak tersebarnya berita tentang kunci dimensi ada di kerajaan Qingyuan dan menjadi rebutan, mereka semua mendapatkan tugas untuk menjaga ketat lokasi ruang dimensi berada.

"Bukan... bukan begitu maksudku," ujar prajurit pertama tergagap, sedikit menghindari kesalahpaman rekannya. "Sudahlah, aku harus kembali melapor. Sekarang giliranmu berjaga," katanya singkat sebelum berbalik pergi, meninggalkan pos penjagaan dalam hening yang kembali mencekam.

Di atas dahan pohon yang rindang tak jauh dari sana, Lynx dan Rira bersembunyi di antara dedaunan, menyimak percakapan diantara mereka.

"Jadi kita sekarang sudah tidak diwilayah kerajaan Qingyuan? Kerajaan Jinghai... kunci dimensi..." gumamnya dalam hati, wajahnya mengeras. "Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Sekte Api Langit..."

Ia menoleh ke samping dan berbisik pelan pada Rira yang bersembunyi di belakangnya, "Rira, ternyata kita ada di wilayah kerajaan Jinghai. Kita harus segera pergi sekarang... aku rasa tempat ini ada hubungannya dengan sekte Api Langit."

"Sekte Api Langit? Baiklah, Kepala Suku. Aku akan selalu mengikutimu," bisik Rira dengan nada mantap, lalu melompat lincah menyusul Lynx yang sudah lebih dulu melesat ke pohon di seberang.

Beberapa saat sebelumnya, saat Lynx ingin mendapatkan informasi dari seseorang yang dirasakannya ada di sekitar area itu, niatnyamendadak sirna ketika matanya menangkap pos penjagaan dengan seorang prajurit berjaga. Lynx merasa ada yang aneh karena seragam prajurit itu tidak menyerupai pakaian militer dari kota Huoling maupun Zhurong. Nalurinya langsung menyala. Ia memberi isyarat cepat kepada Rira untuk menghindar dan mencari tempat tersembunyi. Lynx tidak ingin terlibat dengan pasukan prajurit karena dapat menambah masalah yang tak perlu.

Setelah merasa cukup jauh dari lokasi pos, Lynx berhenti dan menatap Rira yang ada dibelakangnya.

"Rira, tunggu sebentar," kata Lynx pelan namun tegas. Segera dia mengangkat tangannya dan mulai menggambar formasi, portal teleportasi.

Dengan cepat, sebuah pusaran energi yang berpendar dengan kilatan ungu keperakan terbuka dihadapan mereka dan tidak membuang waktu, Lynx menggenggam tangan Rira yang terlihat takjub memandang portal buatan Lynx dan mengajaknya memasuki portal teleportasi tersebut.

"Ayo, kita tak punya banyak waktu," katanya cepat sebelum melangkah masuk ke dalam pusaran cahaya.

Tidak lama setelah memasuki portal, keduanya tiba di tempat yang benar-benar berbeda, ribuan kilometer dari tempat sebelumnya.

"Di mana kita berada, Kepala Suku?" tanya Rira dengan tatapan waspada sambil mengamati sekeliling. Langkahnya pelan tapi penuh kewaspadaan, setiap gerakannya tampak sigap dan hati-hati.

"Ini wilayah Sekte Api Langit," jawab Lynx dengan suara rendah. Matanya menyapu sekeliling, mencari arah yang ia kenali. "Aku perlu bertemu dengan leluhur mereka terlebih dahulu. Mereka mungkin satu-satunya yang tahu bagaimana cara menyelamatkan rekan-rekan kita."

Lynx segera mengajak Rira berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke gerbang utama Sekte Api Langit. Jalan itu sunyi, hanya diiringi suara langkah mereka dan gemerisik dedaunan yang bergoyang pelan ditiup angin.

"Aku hampir melupakan hal penting." batin Lynx, lalu dia berhenti dan menatap Rira.

"Ada apa kepala suku? kenapa berhenti?" tanya Rira dengan wajah terlihat polos.

Lynx tersenyum lembut, sorot matanya menghangatkan suasana. "Rira, dengar ya. Di sini mereka mengenalku sebagai Xiao Ling dan menyebut Leena dengan nama Ling Mei. Kami memakai nama lain supaya bisa beradaptasi dengan lingkungan ini, jadi aku harap kamu jangan memanggilku Kepala Suku biar kita tidak menarik perhatian yang tidak perlu."

"Baiklah kepala suku. Xiao Ling... Ling Mei... aku akan mengingatnya." kata Rira sambil menganggukkan kepalanya.

"Kalau kamu sendiri bagaimana? Apakah memiliki nama lain di dunia ini?" Lynx menatap wajah Rira penuh perhatian, menunggu jawaban.

Rira menggeleng pelan. "Tidak, aku selalu sembunyi. Bahkan aku sampai memotong rambutku supaya orang-orang yang mengejarku tidak mengenaliku. Jadi aku nggak pernah mikirin soal nama lain."

"Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan perjalanan kita," kata Lynx sambil melanjutkan langkahnya.

"Pemuda ini selalu terlihat serius dalam setiap gerakannya. Tapi dalam ingatanku, dia cuma bisa santai kalau sedang bersama kekasihnya," Rira memikirkan hal itu sambil terus memperhatikan sosok Lynx yang berjalan di depan dengan langkah mantap. "Sungguh sayang, pria sehebat dia cuma punya satu pasangan."

Begitu mereka sampai di gerbang megah yang menjulang tinggi, beberapa penjaga yang sedang berjaga langsung menoleh dengan cepat.

"Berhenti! Siapa kalian?" suara salah satu penjaga terdengar keras dan tegas. Sekte mereka masih dalam masa berkabung setelah ketua mereka terbunuh, ditambah beberapa tetua yang berkhianat membuat mereka sangat mudah curiga pada tamu yang datang.

Di belakang penjaga itu, beberapa penjaga mulai berbisik-bisik, "Kenapa wajahnya terasa familiar? Sepertinya dia pernah datang ke sini."

"Mungkin kamu salah lihat," sahut rekan yang lain. "Lihat sendiri! Pemuda ini hanya forging qi tingkat dua, bahkan wanita di sampingnya punya aura yang sangat lemah."

"Forging qi tingkat dua..." penjaga itu tampak berpikir keras sebelum akhirnya berteriak, "Aku tahu siapa dia!"

"Siapa dia?" mata para penjaga menatap tajam ke arah rekannya, penuh penasaran.

"Dia pemuda yang pernah menolong Kak Ling Mei. Yang membawakan obat dari kota Huoling," jawabnya dengan cepat.

"Ada apa? Kenapa kalian ribut?" sebuah suara terdengar dari arah lain.

"Senior Peng Tao, ini..." penjaga itu tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena melihat ekspresi senior mereka yang baru datang berubah drastis.

Peng Tao mengenali Lynx dalam sekejap. Wajahnya langsung berubah cerah dan ia segera memberi hormat dengan cepat dan penuh rasa hormat.

"Saudara Xiao Ling, kau kembali," kata Peng Tao sambil tersenyum ramah. "Bukankah Kakak Seperguruan Ling Mei seharusnya bersamamu? Kenapa dia tidak ikut kali ini?" tanyanya dengan nada penuh rasa ingin tahu, matanya melirik ke arah Rira yang berdiri tenang di sisi Lynx.

"Ling Mei sedang mengurus hal penting," jawab Lynx dengan suara yang tenang tapi penuh arti. "Aku ke sini untuk bertemu Leluhur Sekte. Apakah aku bisa bertemu dengannya sekarang juga?"

Dari balik pos penjagaan, muncul sosok lain bernama Deng Wei. Dulu, dia pernah menghadang bahkan sempat bentrok dengan Lynx saat pemuda itu mencoba masuk ke sekte tanpa izin. Namun kali ini, sorot matanya berbeda. Tak ada kecurigaan atau permusuhan sama sekali, hanya penghormatan tulus, meski pemuda yang dihadapinya ini masih berada di forging qi tingkat dua, namun kekuatannya tidak bisa di remehkan.

"Saudara Xiao Ling, kami sudah menerima pesan khusus dari Leluhur. Kau boleh masuk kapan pun kau datang," kata Deng Wei dengan sikap sopan.

"Terima kasih. Aku ingin bertemu langsung dengan Leluhur. Bisakah kalian mengantarku ke sana?"

"Tentu saja, ikut aku," jawab Deng Wei sambil memberi isyarat kepada Peng Tao agar tetap berjaga. Dia lalu berjalan di depan, mengantar Lynx dan Rira menyusuri jalur berbatu yang mengarah ke aula utama sekte, tempat sosok Leluhur Sekte Api Langit berada.

